Cinta Erotis & Cinta Persaudaraan


Seorang dewasa dalam sikap hidupnya tetap membutuhkan bantuan, kehangatan dan perlindungan yang sama dengan kebutuhan akan perlindungan dan kehangatan yang dulu pernah dialaminya. Hal ini senada dengan ungkapan Aristoteles: manusia adalah makhluk yang merindukan. Dan sebagai ganti terhadap kerinduan ini, kita senantiasa mencari penggantinya yang mampu memberi kehangatan dan perlindungan. Bentuk pencarian itu, menyata dalam diri seorang pacar. Kita biasanya mencari pacar pertama-tama untuk memenuhi kerinduan akan kehilangan itu.
Jika demikian yang terjadi, maka di sini kita mulai melakonkan cinta yang lain yakni cinta erotis (eros: nafsu). Dalam diri kita mulai ada satu dorongan untuk bercampur baur dan bersatu dengan yang lain, dan biasanya diarahkan pada lawan jenis. Hidup dalam kategori ini adalah bermula dari pemisahan dan mengarah pada persatuan. Kalau kita menemukan kasus-kasus seperti suka gonta-ganti pacar atau selingkuh, kita sebenarnya mau memperlihatkan bahwa betapa sulitnya mencari pengganti tokoh ibu dalam hidup.
Cinta erotis ini bisa berdampak pada dua sikap. Kita bisa memenuhi kerinduan itu dengan tetap bertahan pada sikap masokisitis-reseptif karena tidak mampu untuk menemukan integritas dan individualistis diri, tetapi sekaligus kita bisa saja berubah menjadi pribadi yang sadistis-eksploitatif karena tidak mampu untuk bersatu dengan sesama. Yang pertama ini nampak dalam kasus seperti sinetron suami-suami takut istri, sedangkan yang kedua nampak dalam kasus seperti bentuk kekerasan dalam keluarga (KDRT). Cinta model ini bukanlah cinta yang dewasa karena cinta hanyalah dianggap sebagai satu keinginan atau hasrat seksual dengan lawan jenis dan berdampak pada orang bisa jatuh pada kedua ekstrim tersebut. Oleh karenanya cinta ini harus bermuara pada cinta persaudaraan.
Cinta persaudaraan merupakan model cinta yang terakhir tetapi sekaligus paling penting dari ketiganya. Sebab dalam tindakan, kita seolah menyerukan seruan cinta universal: satu untuk semua, semua untuk satu dan semua untuk semua. Inilah model cinta yang matang, yang merangkum semua di dalam semua. Di dalamnya, seorang manusia menjalin hubungan yang aktif dan kreatif dengan sesamanya, dengan dirinya sendiri dan dengan alam. Ia bukan hanya bergantung pada cinta erotis melainkan merangkumnya dengan pola yang berbeda yakni mempertahankan persatuannya dengan sesama dengan tetap memperhitungkan integritas dan individualitas diri yang matang. Cinta ini terungkap dalam pengalaman kesetiakawanan dengan sesama yang lain dengan sikap saling membuka diri, kebersamaan yang akrab untuk bersatu membangun dunia. Cinta model ini bisa ditemukan dalam cinta erotis pria dan wanita dalam mana dua insan yang berbeda menjadi satu, dalam pengertian yang berbeda. Apabila dalam cinta erotis di atas saya hanya mampu mencintai satu orang saja dan yang lain tidak, maka sebenarnya saya membuat diri saya terasing dengan sesama. Saya boleh merasa terikat dengan orang tertentu yang saya cintai lewat cara apa saja tetapi sebenarnya saya tidak sedang mencintainya. Berbeda halnya dengan cinta erotis sebagai salah satu ungkapan cinta persaudaraan. Dalam pengalaman ini cinta dialami secara paradoksal yakni bahwa dua manusia menjadi satu, tetapi pada saat yang sama mereka tetap dua. Jika saya katakan saya mencintai engkau, itu berarti saya sebenarnya mengatakan bahwa dalam dirimu saya mencintai seluruh kemanusiaan, segala yang hidup termasuk saya mencintai diri saya sendiri. Cinta ini bersifat universal dan karenanya masuk dalam ranah cinta persaudaraan. Dalam cinta persaudaraan ini, yang penting adalah kualitas kegiatan mencinta dan bukan objeknya.